Selasa, 02 Juli 2013

CERPEN REVAN dan AIRIN


DIMANA TEMPATKU
Siang ini sangat terik mungkin sama teriknya dengan hatiku yang sedang ‘terbakar’. Aku menyelonjorkan kakiku yang lelah dan menyandarkan tubuh pada sebatang pohon yang terlihat kokoh. Pelan, sangat pelan ku pejamkan mata untuk menjernihkan perasaaan. Aku mengedarkan pandangan, ‘dimana kawanku?’ suasana di lapangan terbilang sepi padahal hari ini cuaca sangat mendukung untuk berlatih.. hmmz, barangkali teman-temanku malas menentang terik matahari.
“kau sedang apa?”tanya seseorang
“kau sendiri sedang apa??” aku balas bertanya
“aku ingin bermain-main, oh ya kau kenapa? Mengapa seharian ini wajahmu tampak sangat masam..”tanyanya dan tanpa diminta dia sudah duduk di sampingku
“kau yang kenapa?”sekali lagi aku balas bertanya
“aku?? Memangnya aku kenapa?”tanyanya bingung entah padaku entah pada dirinya sendiri
“mana aku tahu. Kenapa bertanya padaku”kataku sengit
“hehh.. mengapa kau suka sekali bersikap seperti ini? Tidakkah kau tahu ini membingungkanku”
Tanyanya sambil memperhatikan bola di tangannya
“aku tak suka mendengar nada bicaramu”kataku dan aku mengalihkan perhatian pada bola di pangkuanku
“katakan...!! aku ini siapa bagimu?”Tanyanya lagi, kali ini matanya mencoba mengunci pandanganku
“kenapa bertanya seperti itu? Ragukah engkau kepadaku?”
“ini bukan masalah ragu Ai hanya saja aku banyak mendengar orang orang membicarakan tentangmu. Mereka bilang kau begini lalu begitu, mereka bilang kau harus begitu tapi malah begini.  Aku butuh kejelasan Ai, supaya aku tak perlu susah susah menerjemahkan perasaan ini ” ia menatapku . Matanya yang temaram menyejukan hatiku yang sedang panas. Hmm... ini sih bukan masalah begini-begitu , atau sebaliknya tapi dia pasti sedang ingin mendebatku. Kebiasaanya yang tak pernah berubah adalah ia suka sekali mencari-cari bahan pertengkaran. Habisnya pacarku ini seorang orator sih jadi senang sekali dia jika ada yang bisa di ajak berdebat.
“aku gak ngerti ah, to the point aja bisa kan..!”kataku kalem, dalam hati aku tersenyum geli. Jujur nih, sejak awal aku niat pacaran supaya bisa ngejailin pacar aku dengan ekspresi super-datar-tanpa-dosa-ku, hehe
“aku pacarmu yang ke berapa?”tanyanya. matanya berkilat siap menyulut peperangan
“emmm..”aku sengaja menggantungkan ucapan , habisnya ekspresinya lucu BGT sih kalo sedang serius.
“jawab donk, masa pertanyaan begitu mudah gak bisa jawab. Percuma situ dapat ranking satu terus”sindirnya
‘duh,mulai gak enak nih’bathinku, aku merapikan mata ke-empatku dan menatapnya datar.
“pacar pertamaku bola, pacar kedua Liliyana, pacar ketiga emm.. boleh deh kamu”jelasku
Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis. “Gitu ya?” ia menendang-nendang udara dengan kakinya “kalo gitu Sandi, Arpi, Reddi, Ibas,dan sebagainya, dan sebagainya ada di posisi berapa?”ia menudingku
“oh... itu toh intinya. Ngomong kek dari tadi kalo kamu lagi cemburu. Gak usah muter-muter jogja-jakarta-bandung trus balik lagi ke jogja”aku mencibirnya
“habis, teman teman bilang sepertinya kamu lebih sayang pada mereka di banding aku, faktanya, kamu nongkrong di kantin bareng mereka bukan denganku, biasanya setiap  malming kamu jalan dengan mereka bukan denganku jadi dimanakah batasku berada? Apakah aku pacarmu atau hanya tempat sampahmu?! Aku bingung kenapa aku bias memilki hati untuk orang yang hatinya terbagi-bagi
Aku menopang dagu dan memperhatikannya. Rupanya pacarku juga manusia ya? Makanya bisa cemburu juga ck ck ck,
“dengerin gak ucapanku barusan?”tanyanya dengan nada sengit, ‘nah kan insting oratornya mulai keluar
“iya kangmas.”aku berdiri dan memainkan bola kesayanganku
“pasti iya-nya Cuma sekarang aja. Lima menit lagi juga pasti udah lupa” ia menggerutu
Aku nyengir dalam hati mendengar gerutuannya
“kamu nunggu jawaban gak”aku bertanya dan menatapnya, ia tampak terkejut mendengar intonasi tanyaku.
“iya aku butuh jawaban, garis bawahi ya ! jawaban dan bukan sanggahan apalagi filosofi gak jelas” ia berkata penuh penekanan dan itu membuatku nyengir lagi dalam hati ‘oh, lelakiku.. J
Aku membersihkan  tenggorokan dengan berdehem terlebih dahulu dan dapat kurasakan pacarku jadi tegang karenanya
”jawaban pertama, ya kau pacarku. Setidaknya sampai detik ini kau belum meminta putus” aku menatapnya sekilas dan berbicara lagi
“jawaban kedua, kurasa kau dapat menilai sendiri ada dimana batasanmu, aku percaya padamu , menyayangimu dan mencintaimu dengan caraku sendiri jadi temukanlah ada di ruang mana tempatmu di hatiku“ aku meliriknya dan kurasa dia juga sedang melirikku dengan was-was
“jawaban ketiga, kurasa kau terlalu tampan untuk hanya menjadi tempat sampahku” aku tersenyum rahasia”and the last, bagiku, saat kau memilih untuk menjadi pacarku saat itulah kau jadi bagian dalam hidup dan keseharianku. Pahamilah sesuatu Revan,Dalam keseharianku aku tak sendirian. Aku punya teman, sahabat, kolega dan duniaku sendiri yang sangat aku cintai. Aku mungkin akan lebih mendengar apa kata sahbatku di bandingkan apa katamu tapi percayalah bahwa aku akan lebih melihatmu bahkan jika mataku di tutupi oleh baja yang tebal, intinya berbaurlah dengan duniaku, sahabatku dan kehidupanku. Maka aku yakin kau tak akan cemburu buta seperti ini lagi”
Dia menatapku dan menggeleng tak percaya.
“ku pikir aku sedang tidak berpacaran dengan filusuf sekarang”katanya sambil tersenyum, tersirat jelas kelegaan dari binar matanya ‘oh.. lelakiku’
“jadi kau puas dengan jawabanku tuan? Apakah masih ingin bertanya lagi”
Dia menggeleng dan menjalin jemarinya dengan jemariku
“terima kasih”ucapnya tulus
“Untuk?”
“memilihku untuk jadi bagian dari dirimu”
“ku rasa aku juga harus berterima kasih padamu”
“untuk?”
“menjadikanku perempuan yang kau pilih”
“aku tahu dimana tempatku sekarang”
“dimana?”
“tidak penting dimana. Tapi yang pasti hampir di seluruh ruang hatimu”
“kurasa kau terlalu percaya diri tuan “aku mencibir dan bibirnya tersenyum di atas bibirku. ‘oh,,lelakiku yang nakal dan pencuri kesempatan’ aku mencubitnya dan dia meringis
“lain kali ijin dulu”
“ku rasa itu hanya akan membuang waktu karena aku tahu kau akan mengijinkanku”
Aku mencubit lagi, kali ini lebih keras dan intens
“aku rela terus di cubit setiap saat jika kau setuju untuk ku cium kapanpun aku ingin”
Aku memerah dan menenteng bolaku, dari kejauhan suara suara kaki dan bola yang menggelinding terdengar semakin mendekat. Mereka baru tiba rupanya.
“woii.. Ai, main yuk”ajak Ibas, aku melambaikan tangan dan bersiap menggiring bola ke arahnya
“tuh kan bener”katanya dan seketika itu juga aku langsung menghadapnya
“pacarku, ini saatnya untuk memulai berkenalan dengan duniaku”
Dia mengerutkan dahi dan memandang sahabat- sahabatku d kejauhan
kalo kamu mau nggak mau, mungkin lain kali”aku memberinya pengertian
“mereka tidak menggigit bukan?”
“tidak. Dalam arti menggigit yang sesungguhnya”
Dia menatapku dengan penuh keheranan
“kita tak akan tahu jika tidak mencoba, ayo ! ku rasa cuaca mendukung untuk bermain dengan teman pacarku”
“Sahabat”ralatku,dia tersenyum senang dan meraih tanganku
“dari tadi kek”katanya
“woii.. Ai, ikutan main gak nih?”Arpin berteriak, aku mengangguk dan menunjuk cowok yang menggandengku. Ah, aku yakin mereka akan ‘menghabisi’ lelaki tersayangku ini tapi ku pikir itu pengorbanan yang pantas bagi lelaki yang berani masuk kandang singa betina yang di kelilingi raja raja rimba.


SEMAK RINDU-TASIKMALAYA
NOVEMBER, 09-2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar