DIMANA TEMPATKU
“kau
sedang apa?”tanya seseorang
“kau
sendiri sedang apa??” aku balas bertanya
“aku
ingin bermain-main, oh ya kau kenapa? Mengapa seharian ini wajahmu tampak
sangat masam..”tanyanya dan tanpa diminta dia sudah duduk di sampingku
“kau
yang kenapa?”sekali lagi aku balas bertanya
“aku??
Memangnya aku kenapa?”tanyanya bingung entah padaku entah pada dirinya sendiri
“mana
aku tahu. Kenapa bertanya padaku”kataku sengit
“hehh..
mengapa kau suka sekali bersikap seperti ini? Tidakkah kau tahu ini
membingungkanku”
Tanyanya
sambil memperhatikan bola di tangannya
“aku
tak suka mendengar nada bicaramu”kataku dan aku mengalihkan perhatian pada bola
di pangkuanku
“katakan...!!
aku ini siapa bagimu?”Tanyanya lagi, kali ini matanya mencoba mengunci
pandanganku
“kenapa
bertanya seperti itu? Ragukah engkau kepadaku?”
“ini
bukan masalah ragu Ai hanya saja aku banyak mendengar orang orang membicarakan
tentangmu. Mereka bilang kau begini lalu begitu, mereka bilang kau harus begitu
tapi malah begini. Aku butuh kejelasan
Ai, supaya aku tak perlu susah susah menerjemahkan perasaan ini ” ia menatapku
. Matanya yang temaram menyejukan hatiku yang sedang panas. Hmm... ini sih
bukan masalah begini-begitu , atau sebaliknya tapi dia pasti sedang ingin
mendebatku. Kebiasaanya yang tak pernah berubah adalah ia suka sekali mencari-cari
bahan pertengkaran. Habisnya pacarku ini seorang orator sih jadi senang sekali
dia jika ada yang bisa di ajak berdebat.
“aku
gak ngerti ah, to the point aja bisa kan..!”kataku kalem, dalam hati aku
tersenyum geli. Jujur nih, sejak awal aku niat pacaran supaya bisa ngejailin
pacar aku dengan ekspresi super-datar-tanpa-dosa-ku, hehe
“aku
pacarmu yang ke berapa?”tanyanya. matanya berkilat siap menyulut peperangan
“emmm..”aku
sengaja menggantungkan ucapan , habisnya ekspresinya lucu BGT sih kalo sedang
serius.
“jawab
donk, masa pertanyaan begitu mudah gak bisa jawab. Percuma situ dapat ranking
satu terus”sindirnya
‘duh,mulai
gak enak nih’bathinku, aku merapikan mata ke-empatku dan menatapnya datar.
“pacar
pertamaku bola, pacar kedua Liliyana, pacar ketiga emm.. boleh deh kamu”jelasku
Dia
menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis. “Gitu ya?” ia menendang-nendang
udara dengan kakinya “kalo gitu Sandi, Arpi, Reddi, Ibas,dan sebagainya, dan
sebagainya ada di posisi berapa?”ia menudingku
“oh...
itu toh intinya. Ngomong kek dari tadi kalo kamu lagi cemburu. Gak usah
muter-muter jogja-jakarta-bandung trus balik lagi ke jogja”aku mencibirnya
“habis,
teman teman bilang sepertinya kamu lebih sayang pada mereka di banding aku, faktanya, kamu nongkrong
di kantin bareng mereka bukan
denganku, biasanya setiap malming kamu jalan dengan mereka bukan denganku jadi dimanakah batasku berada? Apakah aku pacarmu atau hanya
tempat sampahmu?! Aku bingung kenapa aku bias memilki hati untuk orang yang
hatinya terbagi-bagi”
Aku
menopang dagu dan memperhatikannya. Rupanya pacarku juga manusia ya? Makanya
bisa cemburu juga ck ck ck,
“dengerin
gak ucapanku barusan?”tanyanya
dengan nada sengit, ‘nah kan insting oratornya mulai keluar
“iya
kangmas.”aku berdiri dan memainkan bola kesayanganku
“pasti
iya-nya Cuma sekarang aja. Lima menit lagi juga pasti udah lupa” ia menggerutu
Aku
nyengir dalam hati mendengar gerutuannya
“kamu nunggu jawaban gak”aku bertanya dan
menatapnya, ia tampak terkejut mendengar intonasi tanyaku.
“iya aku butuh jawaban, garis bawahi ya !
jawaban dan bukan sanggahan apalagi filosofi gak jelas” ia berkata penuh
penekanan dan itu membuatku nyengir lagi dalam hati ‘oh, lelakiku.. J’
Aku membersihkan tenggorokan dengan berdehem terlebih dahulu
dan dapat kurasakan pacarku jadi tegang karenanya
”jawaban pertama, ya kau pacarku. Setidaknya
sampai detik ini kau belum meminta putus” aku menatapnya sekilas dan berbicara
lagi
“jawaban kedua, kurasa kau dapat menilai
sendiri ada dimana batasanmu, aku percaya padamu , menyayangimu dan mencintaimu
dengan caraku sendiri jadi temukanlah ada di ruang mana tempatmu di hatiku“ aku
meliriknya dan kurasa dia juga sedang melirikku dengan was-was
“jawaban ketiga, kurasa kau terlalu tampan
untuk hanya menjadi tempat sampahku” aku tersenyum rahasia”and the last,
bagiku, saat kau memilih untuk menjadi pacarku saat itulah kau jadi bagian
dalam hidup dan keseharianku. Pahamilah sesuatu Revan,Dalam keseharianku aku
tak sendirian. Aku punya teman, sahabat, kolega dan duniaku sendiri yang sangat
aku cintai. Aku mungkin akan lebih mendengar apa kata sahbatku di bandingkan
apa katamu tapi percayalah bahwa aku akan lebih melihatmu bahkan jika mataku di
tutupi oleh baja yang tebal, intinya berbaurlah dengan duniaku, sahabatku dan
kehidupanku. Maka aku yakin kau tak akan cemburu buta seperti ini lagi”
Dia menatapku dan menggeleng tak percaya.
“ku pikir aku sedang tidak berpacaran dengan
filusuf sekarang”katanya sambil tersenyum, tersirat jelas kelegaan dari binar
matanya ‘oh.. lelakiku’
“jadi kau puas dengan jawabanku tuan? Apakah
masih ingin bertanya lagi”
Dia menggeleng dan menjalin jemarinya dengan
jemariku
“terima kasih”ucapnya tulus
“Untuk?”
“memilihku untuk jadi bagian dari dirimu”
“ku rasa aku juga harus berterima kasih padamu”
“untuk?”
“menjadikanku perempuan yang kau pilih”
“aku tahu dimana tempatku sekarang”
“dimana?”
“tidak penting dimana. Tapi yang pasti hampir
di seluruh ruang hatimu”
“kurasa kau terlalu percaya diri tuan “aku
mencibir dan bibirnya tersenyum di atas bibirku. ‘oh,,lelakiku yang nakal dan
pencuri kesempatan’ aku mencubitnya dan dia meringis
“lain kali ijin dulu”
“ku rasa itu hanya akan membuang waktu karena
aku tahu kau akan mengijinkanku”
Aku mencubit lagi, kali ini lebih keras dan
intens
“aku rela terus di cubit setiap saat jika kau
setuju untuk ku cium kapanpun aku ingin”
Aku memerah dan menenteng bolaku, dari kejauhan
suara suara kaki dan bola yang menggelinding terdengar semakin mendekat. Mereka
baru tiba rupanya.
“woii..
Ai, main yuk”ajak Ibas, aku melambaikan tangan dan bersiap menggiring bola ke
arahnya
“tuh
kan bener”katanya dan seketika itu juga aku langsung menghadapnya
“pacarku, ini saatnya untuk memulai berkenalan dengan
duniaku”
Dia mengerutkan dahi dan memandang sahabat-
sahabatku d kejauhan
“kalo kamu mau nggak mau, mungkin lain kali”aku memberinya pengertian
“mereka tidak menggigit bukan?”
“tidak. Dalam arti menggigit yang sesungguhnya”
Dia menatapku dengan penuh keheranan
“kita tak akan tahu jika tidak mencoba, ayo !
ku rasa cuaca mendukung untuk bermain dengan teman pacarku”
“Sahabat”ralatku,dia
tersenyum senang dan meraih tanganku
“dari
tadi kek”katanya
“woii..
Ai, ikutan main gak nih?”Arpin berteriak, aku mengangguk dan menunjuk cowok yang menggandengku. Ah, aku yakin mereka akan ‘menghabisi’ lelaki tersayangku ini tapi ku
pikir itu pengorbanan yang pantas bagi lelaki yang berani masuk kandang singa
betina yang di kelilingi raja raja rimba.
SEMAK RINDU-TASIKMALAYA
NOVEMBER, 09-2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar