Selasa, 02 Juli 2013

MERENUNG di SEMAK RINDU


DEAR REVAN

kadang aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa kau bisa jatuh di lubuk hatiku? dan mengapa aku bisa jatuh sayang pada seseorang yang sangat asing.aku ingin menemukanmu lalu membawamu dalam kehidupanku yang abu-abu, tapi entah kenapa, semua terasa sulit dan tidak mungkin. jika saja tuhan memberikan lagi satu kesempatan agar aku bisa mengulas kehodupan masa laluku mungkin kaulah yang akan pertama kali ku telusuri. terima kasih. setidaknya karena kehadiranmu di mimpiku aku jadi sedikit mengerti seperti apa rasanya mencintai.

FROM AIRIN, 2 JUNI 2013

CERPEN REVAN dan AIRIN


DIMANA TEMPATKU
Siang ini sangat terik mungkin sama teriknya dengan hatiku yang sedang ‘terbakar’. Aku menyelonjorkan kakiku yang lelah dan menyandarkan tubuh pada sebatang pohon yang terlihat kokoh. Pelan, sangat pelan ku pejamkan mata untuk menjernihkan perasaaan. Aku mengedarkan pandangan, ‘dimana kawanku?’ suasana di lapangan terbilang sepi padahal hari ini cuaca sangat mendukung untuk berlatih.. hmmz, barangkali teman-temanku malas menentang terik matahari.
“kau sedang apa?”tanya seseorang
“kau sendiri sedang apa??” aku balas bertanya
“aku ingin bermain-main, oh ya kau kenapa? Mengapa seharian ini wajahmu tampak sangat masam..”tanyanya dan tanpa diminta dia sudah duduk di sampingku
“kau yang kenapa?”sekali lagi aku balas bertanya
“aku?? Memangnya aku kenapa?”tanyanya bingung entah padaku entah pada dirinya sendiri
“mana aku tahu. Kenapa bertanya padaku”kataku sengit
“hehh.. mengapa kau suka sekali bersikap seperti ini? Tidakkah kau tahu ini membingungkanku”
Tanyanya sambil memperhatikan bola di tangannya
“aku tak suka mendengar nada bicaramu”kataku dan aku mengalihkan perhatian pada bola di pangkuanku
“katakan...!! aku ini siapa bagimu?”Tanyanya lagi, kali ini matanya mencoba mengunci pandanganku
“kenapa bertanya seperti itu? Ragukah engkau kepadaku?”
“ini bukan masalah ragu Ai hanya saja aku banyak mendengar orang orang membicarakan tentangmu. Mereka bilang kau begini lalu begitu, mereka bilang kau harus begitu tapi malah begini.  Aku butuh kejelasan Ai, supaya aku tak perlu susah susah menerjemahkan perasaan ini ” ia menatapku . Matanya yang temaram menyejukan hatiku yang sedang panas. Hmm... ini sih bukan masalah begini-begitu , atau sebaliknya tapi dia pasti sedang ingin mendebatku. Kebiasaanya yang tak pernah berubah adalah ia suka sekali mencari-cari bahan pertengkaran. Habisnya pacarku ini seorang orator sih jadi senang sekali dia jika ada yang bisa di ajak berdebat.
“aku gak ngerti ah, to the point aja bisa kan..!”kataku kalem, dalam hati aku tersenyum geli. Jujur nih, sejak awal aku niat pacaran supaya bisa ngejailin pacar aku dengan ekspresi super-datar-tanpa-dosa-ku, hehe
“aku pacarmu yang ke berapa?”tanyanya. matanya berkilat siap menyulut peperangan
“emmm..”aku sengaja menggantungkan ucapan , habisnya ekspresinya lucu BGT sih kalo sedang serius.
“jawab donk, masa pertanyaan begitu mudah gak bisa jawab. Percuma situ dapat ranking satu terus”sindirnya
‘duh,mulai gak enak nih’bathinku, aku merapikan mata ke-empatku dan menatapnya datar.
“pacar pertamaku bola, pacar kedua Liliyana, pacar ketiga emm.. boleh deh kamu”jelasku
Dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis. “Gitu ya?” ia menendang-nendang udara dengan kakinya “kalo gitu Sandi, Arpi, Reddi, Ibas,dan sebagainya, dan sebagainya ada di posisi berapa?”ia menudingku
“oh... itu toh intinya. Ngomong kek dari tadi kalo kamu lagi cemburu. Gak usah muter-muter jogja-jakarta-bandung trus balik lagi ke jogja”aku mencibirnya
“habis, teman teman bilang sepertinya kamu lebih sayang pada mereka di banding aku, faktanya, kamu nongkrong di kantin bareng mereka bukan denganku, biasanya setiap  malming kamu jalan dengan mereka bukan denganku jadi dimanakah batasku berada? Apakah aku pacarmu atau hanya tempat sampahmu?! Aku bingung kenapa aku bias memilki hati untuk orang yang hatinya terbagi-bagi
Aku menopang dagu dan memperhatikannya. Rupanya pacarku juga manusia ya? Makanya bisa cemburu juga ck ck ck,
“dengerin gak ucapanku barusan?”tanyanya dengan nada sengit, ‘nah kan insting oratornya mulai keluar
“iya kangmas.”aku berdiri dan memainkan bola kesayanganku
“pasti iya-nya Cuma sekarang aja. Lima menit lagi juga pasti udah lupa” ia menggerutu
Aku nyengir dalam hati mendengar gerutuannya
“kamu nunggu jawaban gak”aku bertanya dan menatapnya, ia tampak terkejut mendengar intonasi tanyaku.
“iya aku butuh jawaban, garis bawahi ya ! jawaban dan bukan sanggahan apalagi filosofi gak jelas” ia berkata penuh penekanan dan itu membuatku nyengir lagi dalam hati ‘oh, lelakiku.. J
Aku membersihkan  tenggorokan dengan berdehem terlebih dahulu dan dapat kurasakan pacarku jadi tegang karenanya
”jawaban pertama, ya kau pacarku. Setidaknya sampai detik ini kau belum meminta putus” aku menatapnya sekilas dan berbicara lagi
“jawaban kedua, kurasa kau dapat menilai sendiri ada dimana batasanmu, aku percaya padamu , menyayangimu dan mencintaimu dengan caraku sendiri jadi temukanlah ada di ruang mana tempatmu di hatiku“ aku meliriknya dan kurasa dia juga sedang melirikku dengan was-was
“jawaban ketiga, kurasa kau terlalu tampan untuk hanya menjadi tempat sampahku” aku tersenyum rahasia”and the last, bagiku, saat kau memilih untuk menjadi pacarku saat itulah kau jadi bagian dalam hidup dan keseharianku. Pahamilah sesuatu Revan,Dalam keseharianku aku tak sendirian. Aku punya teman, sahabat, kolega dan duniaku sendiri yang sangat aku cintai. Aku mungkin akan lebih mendengar apa kata sahbatku di bandingkan apa katamu tapi percayalah bahwa aku akan lebih melihatmu bahkan jika mataku di tutupi oleh baja yang tebal, intinya berbaurlah dengan duniaku, sahabatku dan kehidupanku. Maka aku yakin kau tak akan cemburu buta seperti ini lagi”
Dia menatapku dan menggeleng tak percaya.
“ku pikir aku sedang tidak berpacaran dengan filusuf sekarang”katanya sambil tersenyum, tersirat jelas kelegaan dari binar matanya ‘oh.. lelakiku’
“jadi kau puas dengan jawabanku tuan? Apakah masih ingin bertanya lagi”
Dia menggeleng dan menjalin jemarinya dengan jemariku
“terima kasih”ucapnya tulus
“Untuk?”
“memilihku untuk jadi bagian dari dirimu”
“ku rasa aku juga harus berterima kasih padamu”
“untuk?”
“menjadikanku perempuan yang kau pilih”
“aku tahu dimana tempatku sekarang”
“dimana?”
“tidak penting dimana. Tapi yang pasti hampir di seluruh ruang hatimu”
“kurasa kau terlalu percaya diri tuan “aku mencibir dan bibirnya tersenyum di atas bibirku. ‘oh,,lelakiku yang nakal dan pencuri kesempatan’ aku mencubitnya dan dia meringis
“lain kali ijin dulu”
“ku rasa itu hanya akan membuang waktu karena aku tahu kau akan mengijinkanku”
Aku mencubit lagi, kali ini lebih keras dan intens
“aku rela terus di cubit setiap saat jika kau setuju untuk ku cium kapanpun aku ingin”
Aku memerah dan menenteng bolaku, dari kejauhan suara suara kaki dan bola yang menggelinding terdengar semakin mendekat. Mereka baru tiba rupanya.
“woii.. Ai, main yuk”ajak Ibas, aku melambaikan tangan dan bersiap menggiring bola ke arahnya
“tuh kan bener”katanya dan seketika itu juga aku langsung menghadapnya
“pacarku, ini saatnya untuk memulai berkenalan dengan duniaku”
Dia mengerutkan dahi dan memandang sahabat- sahabatku d kejauhan
kalo kamu mau nggak mau, mungkin lain kali”aku memberinya pengertian
“mereka tidak menggigit bukan?”
“tidak. Dalam arti menggigit yang sesungguhnya”
Dia menatapku dengan penuh keheranan
“kita tak akan tahu jika tidak mencoba, ayo ! ku rasa cuaca mendukung untuk bermain dengan teman pacarku”
“Sahabat”ralatku,dia tersenyum senang dan meraih tanganku
“dari tadi kek”katanya
“woii.. Ai, ikutan main gak nih?”Arpin berteriak, aku mengangguk dan menunjuk cowok yang menggandengku. Ah, aku yakin mereka akan ‘menghabisi’ lelaki tersayangku ini tapi ku pikir itu pengorbanan yang pantas bagi lelaki yang berani masuk kandang singa betina yang di kelilingi raja raja rimba.


SEMAK RINDU-TASIKMALAYA
NOVEMBER, 09-2011.

CERBUNG BL


HOW TO GET YOU..?!
PART I

Mencintai itu  anugerah bukan? tapi masihkah ia menjadi anugerah jika yang di cintai mematahkan hati yang mencintai? Aku sering bertanya-tanya adakah aku di hatimu?! Kita dekat secara fisik tapi apakah hati kita juga sedekat itu?! Entahlah,! Mungkin ini hanya harapku saja.
@@@.
“Simon,kau kenapa? Se-sore-an ini kerjamu hanya diam dan melamun saja?” si bawel menyenggol bahuku dan tersenyum menggoda.
“aku ini kakakmu bodoh ! sopanlah sedikit”tegurku sambil merengut
“ah, kita hanya beda satu menit, kau terlalu hiperbol” dia berbaring di tempat tidurku
“aku sudah hidup lebih lama satu menit di banding kau”aku menjitak kepalanya
“kau sedang jatuh cinta ya?!” ia menerka dan membuatku terkejut ”ceritakan padaku ! bagaimana rasanya?”
Aku terdiam, bagaimana bisa aku menjelaskan perasaanku, aku bingung ! kata-kata seolah menghilang dari kamusku.
“Simon.. ayolah ! masa kau mau menyimpan perasaanmu terus. Aku ini kau. Kau adalah aku. Kita satu kesatuan jiwa yang di pisahkan secara fisik” ia menggunakan jurus andalannya dan kalau sudah begitu kalahlah ego-ku.
“aku harus mulai darimana?”tanyaku
“terserah kau ! aku janji tak akan menyela” ia membentuk lambang viss dengan telunjuk dan jari tengahnya. Baiklah ! ku ungkapkan saja semuanya pada saudariku ini, barangkali beban hatiku akan jauh berkurang.
“awalnya aku biasa-biasa saja, tak ada rasa apapun untuknya. Kehadirannya seolah  tak begitu penting di hidupku tapi suatu ketika dia datang padaku, bercerita tentang seseorang yang sangat ia sayang. Aku memberi nasihat padanya, ku suruh dia untuk begini dan begitu agar dapat menjerat pria incarannya, tapi saat kami sudah sangat jauh melangkah kenyataan menghancurkanku,aku sadar bahwa aku tlah menjatuhkan hatiku padanya”
“hmm.. gadis itu hebat juga bisa membuat gunung es sepertimu meleleh”
“dia istimewa Gell, aku baru sadar akan hal itu saat aku sudah mengalami jatuh hati yang parah. Tapi tak mudah untuk menyambungkan sebuah hati bukan?”
“kalau begitu, kau harus memenangkan hatinya, setidaknya buat dia menyadari keberadaaanmu”
“sudah ku lakukan Gell, tapi….”
Tok tok tok..! ketukan di pintu menghentikan obrolan kami.
“masuk !” perintahku
Krett..pintu kamar terbuka dan sebuah wajah muncul dari balik pintu.
“apakah aku mengganggu?”Tanya gadis manis itu
“tidak Kak, masuklah kemari !”ajak Greysia
Pletak ! aku menjitak kepala si bawel Greysia yang akrab ku panggil Gell –Angel-
“kenapa kau memukulku? Dasar bodoh !” Gell menggerutu
“kenapa kau memanggilnya kakak tadi kau tak mau memanggilku kakak”aku cemberut
“ahh.. jadi kau cemburu? Ayolah aku ini bukan kekasihmu”
“kau menyebalkan Gell, aku yang kakakmu kenapa dia yang kau panggil kakak” aku mendebat Gell.
“sudahlah ! kalian terlalu tua untuk memperdebatkan hal hal kecil seperti ini” Maria menengahi kami. Aku meringis dan menutup pintu yang tadi di lupakan oleh Maria.
“ada apa kak?”Tanya Gell
“bisakah kau menemaniku ke SOETTA?”tanyanya
“ah, aku sedang malas. Kau saja Mon !” Gell ‘melempar bola’ padaku
“emm. Bagaimana ya?! Aku juga sedang malas”aku menolak, aku tak bisa dekat-dekat dengan Maria lagi
“ayolah ku mohon.! Siapapun yang mau mengantarku akan ku traktir nanti”
“aku rasa uang bukan prioritas utama, maafkan aku”aku mengambil majalah otomotif dan membolak-balikan halamannya. Tiba-tiba ponsel Maria bordering dan satu suara menyapanya dari seberang sana.
“hallo”
“…………….”
“maafkan aku, apakah kau sudah lama menunggu?”
“…………….”
“oh, aku akan sampai beberapa menit lagi. Sabarlah !”
Maria memandangi kami berdua “apakah kalian tega membiarkan sepupuku menunggu lebih lama lagi, ku mohon temani aku !”Maria memelas dan menatap kami penuh harap.
Aku menutup majalah yang akan ku baca dan menyambar kunci mobilku.
“ayo Mar ! kasian sepupumu”kataku
“benarkah kau mau mengantarku?”Maria mengerjap dan menatapku dengan berbinar
“ayo !”jawabku
“terima kasih, aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu”
“kembali kasih, ku tunggu traktiranmu nanti”
Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke Bandara Internasional Soekarnio-Hatta. Sebenarnya aku tak mau mengantarnya tapi tak tega rasanya memandangi matanya yang di penuhi harapan.
“siapa yang kau jemput Mar?”aku bertanya padanya
“sepupuku, dia dari Korea. Namanya Lee Yong Dae”
“aku baru tahu kau punya sepupu orang Korea”tanyaku lagi
“apakah aku tak pernah membicarakannya?”
“sejauh yang ku ingat, tidak sedikitpun kau menyinggungnya”
“hmm, aku punya tante yang bekerja di Jaeju Island, dia punya resort disana. Namanya tante Vivian, lalu dia menikah dengan Lee Jae Shin dan mereka di karuniai seorang anak  yang sangat tampan dialah Dae –Lee Yong Dae-“
“ohh.. kau bilang dia tampan? Benarkah?! Ku rasa aku lebih tampan darinya”
“heii.. jangan sombong kau ! ketampanan Dae melebihi siapapun yang pernah ku temui. Bahkan Hendra saja kalah tampan dengannya”
“Hendra? Si coolin boy itu kalah tampan?! Ah.. aku meragukannya”
“baik, buktikanlah sendiri”Ucap Maria dengan penuh percaya diri.
Maria merogoh ponselnya dan menekan tombol call.
“kau dimana Dae?” tanpa salam dan sapa Maria langsung ajukan pertanyaan.
“aku di cafeteria, lapar sekali rasanya jadi aku mampir untuk mengisi perut”
“aku menyesal membiarkanmu menunggu selama itu, aku akan kesana segera !”
Klik.. maria mematikan ponselnya dan menarik tanganku.
“heii.. ku pikir aku bukan kambing kau tak perlu menuntunku”kataku, aku keberatan dengan caranya menggeret tanganku
“maaf, aku benar-benar harus sesegera mungkin menemui Dae. Kasihan dia”
Maria melepaskan tanganku dan kami berjalan bersisian, setibanya di cafeteria Maria langsung merogoh ponselnya lagi.
“Maria..! “seseorang berteriak memanggil Maria dan kami menoleh ke sumber suara.
“Lee Yong Dae.. kyaa.. !”Maria memeluk sepupunya itu, ia seolah lupa ada aku di sisinya.”aku minta maaf Dae, aku tak bermaksud membuatmu kelaparan”
“yah aku mengerti,untunglah disini ada money changer jadi aku bisa membeli sesuatu untuk dimakan”
Mereka masih berpelukan dan aku benar-benar merasa terabai. Aku memutar-mutar kunci mobilku dan dengan sabar menunggu Maria.
“ah.. aku hampir saja lupa.”Maria menepuk jidatnya dan melirikku, akhirnya mr. invisible terlihat juga.
“Dae, dia Simon, dia yang mengantarku kemari”
“aigoo.. sepertinya kau punya selera fashion yang kurang baik”Yong Dae mencibir dan menatapku dari ujung ke ujung. Uhh.. aku sebal dengan caranya bicara, memangnya dia itu siapa? Pengamat fashion? cihh.. banyak lagak.
Aku menatap Maria “ayo ! kau masih ingin aku mengantarmu pulang bukan?!”kataku datar. Ku akui Dae memang terlihat keren dengan kemeja linen hitam dan kacamatanya yang juga hitam tapi meskipun aku ini sedang out of fashion tidak sepantasnya dia mengomentari cara berpakaianku. Terlebih lagi kami sama-sama lelaki. Ah.. ada apa dengan orang Korea dan fashion? Tidakkah mereka tahu cara berpakaian mereka itu terlalu ‘berat’.
Aku mengantarkan mereka sayangnya kata terima dan kasih Nampak terlalu mahal untuk keluar dari mulut seorang Lee Yong Dae. Untunglah Maria terlalu baik hati dan mengucapkan banyak terima kasih padaku. Hmm.. dasar tak tahu terima kasih.



BERSAMBUNG ke PART II
THINKING PLACE
‎Sunday, ‎April ‎28, ‎2013, ‏‎6:18:37 AM

CERBUNG BL


HOW TO GET YOU..?!
PART I

Mencintai itu  anugerah bukan? tapi masihkah ia menjadi anugerah jika yang di cintai mematahkan hati yang mencintai? Aku sering bertanya-tanya adakah aku di hatimu?! Kita dekat secara fisik tapi apakah hati kita juga sedekat itu?! Entahlah,! Mungkin ini hanya harapku saja.
@@@.
“Simon,kau kenapa? Se-sore-an ini kerjamu hanya diam dan melamun saja?” si bawel menyenggol bahuku dan tersenyum menggoda.
“aku ini kakakmu bodoh ! sopanlah sedikit”tegurku sambil merengut
“ah, kita hanya beda satu menit, kau terlalu hiperbol” dia berbaring di tempat tidurku
“aku sudah hidup lebih lama satu menit di banding kau”aku menjitak kepalanya
“kau sedang jatuh cinta ya?!” ia menerka dan membuatku terkejut ”ceritakan padaku ! bagaimana rasanya?”
Aku terdiam, bagaimana bisa aku menjelaskan perasaanku, aku bingung ! kata-kata seolah menghilang dari kamusku.
“Simon.. ayolah ! masa kau mau menyimpan perasaanmu terus. Aku ini kau. Kau adalah aku. Kita satu kesatuan jiwa yang di pisahkan secara fisik” ia menggunakan jurus andalannya dan kalau sudah begitu kalahlah ego-ku.
“aku harus mulai darimana?”tanyaku
“terserah kau ! aku janji tak akan menyela” ia membentuk lambang viss dengan telunjuk dan jari tengahnya. Baiklah ! ku ungkapkan saja semuanya pada saudariku ini, barangkali beban hatiku akan jauh berkurang.
“awalnya aku biasa-biasa saja, tak ada rasa apapun untuknya. Kehadirannya seolah  tak begitu penting di hidupku tapi suatu ketika dia datang padaku, bercerita tentang seseorang yang sangat ia sayang. Aku memberi nasihat padanya, ku suruh dia untuk begini dan begitu agar dapat menjerat pria incarannya, tapi saat kami sudah sangat jauh melangkah kenyataan menghancurkanku,aku sadar bahwa aku tlah menjatuhkan hatiku padanya”
“hmm.. gadis itu hebat juga bisa membuat gunung es sepertimu meleleh”
“dia istimewa Gell, aku baru sadar akan hal itu saat aku sudah mengalami jatuh hati yang parah. Tapi tak mudah untuk menyambungkan sebuah hati bukan?”
“kalau begitu, kau harus memenangkan hatinya, setidaknya buat dia menyadari keberadaaanmu”
“sudah ku lakukan Gell, tapi….”
Tok tok tok..! ketukan di pintu menghentikan obrolan kami.
“masuk !” perintahku
Krett..pintu kamar terbuka dan sebuah wajah muncul dari balik pintu.
“apakah aku mengganggu?”Tanya gadis manis itu
“tidak Kak, masuklah kemari !”ajak Greysia
Pletak ! aku menjitak kepala si bawel Greysia yang akrab ku panggil Gell –Angel-
“kenapa kau memukulku? Dasar bodoh !” Gell menggerutu
“kenapa kau memanggilnya kakak tadi kau tak mau memanggilku kakak”aku cemberut
“ahh.. jadi kau cemburu? Ayolah aku ini bukan kekasihmu”
“kau menyebalkan Gell, aku yang kakakmu kenapa dia yang kau panggil kakak” aku mendebat Gell.
“sudahlah ! kalian terlalu tua untuk memperdebatkan hal hal kecil seperti ini” Maria menengahi kami. Aku meringis dan menutup pintu yang tadi di lupakan oleh Maria.
“ada apa kak?”Tanya Gell
“bisakah kau menemaniku ke SOETTA?”tanyanya
“ah, aku sedang malas. Kau saja Mon !” Gell ‘melempar bola’ padaku
“emm. Bagaimana ya?! Aku juga sedang malas”aku menolak, aku tak bisa dekat-dekat dengan Maria lagi
“ayolah ku mohon.! Siapapun yang mau mengantarku akan ku traktir nanti”
“aku rasa uang bukan prioritas utama, maafkan aku”aku mengambil majalah otomotif dan membolak-balikan halamannya. Tiba-tiba ponsel Maria bordering dan satu suara menyapanya dari seberang sana.
“hallo”
“…………….”
“maafkan aku, apakah kau sudah lama menunggu?”
“…………….”
“oh, aku akan sampai beberapa menit lagi. Sabarlah !”
Maria memandangi kami berdua “apakah kalian tega membiarkan sepupuku menunggu lebih lama lagi, ku mohon temani aku !”Maria memelas dan menatap kami penuh harap.
Aku menutup majalah yang akan ku baca dan menyambar kunci mobilku.
“ayo Mar ! kasian sepupumu”kataku
“benarkah kau mau mengantarku?”Maria mengerjap dan menatapku dengan berbinar
“ayo !”jawabku
“terima kasih, aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu”
“kembali kasih, ku tunggu traktiranmu nanti”
Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke Bandara Internasional Soekarnio-Hatta. Sebenarnya aku tak mau mengantarnya tapi tak tega rasanya memandangi matanya yang di penuhi harapan.
“siapa yang kau jemput Mar?”aku bertanya padanya
“sepupuku, dia dari Korea. Namanya Lee Yong Dae”
“aku baru tahu kau punya sepupu orang Korea”tanyaku lagi
“apakah aku tak pernah membicarakannya?”
“sejauh yang ku ingat, tidak sedikitpun kau menyinggungnya”
“hmm, aku punya tante yang bekerja di Jaeju Island, dia punya resort disana. Namanya tante Vivian, lalu dia menikah dengan Lee Jae Shin dan mereka di karuniai seorang anak  yang sangat tampan dialah Dae –Lee Yong Dae-“
“ohh.. kau bilang dia tampan? Benarkah?! Ku rasa aku lebih tampan darinya”
“heii.. jangan sombong kau ! ketampanan Dae melebihi siapapun yang pernah ku temui. Bahkan Hendra saja kalah tampan dengannya”
“Hendra? Si coolin boy itu kalah tampan?! Ah.. aku meragukannya”
“baik, buktikanlah sendiri”Ucap Maria dengan penuh percaya diri.
Maria merogoh ponselnya dan menekan tombol call.
“kau dimana Dae?” tanpa salam dan sapa Maria langsung ajukan pertanyaan.
“aku di cafeteria, lapar sekali rasanya jadi aku mampir untuk mengisi perut”
“aku menyesal membiarkanmu menunggu selama itu, aku akan kesana segera !”
Klik.. maria mematikan ponselnya dan menarik tanganku.
“heii.. ku pikir aku bukan kambing kau tak perlu menuntunku”kataku, aku keberatan dengan caranya menggeret tanganku
“maaf, aku benar-benar harus sesegera mungkin menemui Dae. Kasihan dia”
Maria melepaskan tanganku dan kami berjalan bersisian, setibanya di cafeteria Maria langsung merogoh ponselnya lagi.
“Maria..! “seseorang berteriak memanggil Maria dan kami menoleh ke sumber suara.
“Lee Yong Dae.. kyaa.. !”Maria memeluk sepupunya itu, ia seolah lupa ada aku di sisinya.”aku minta maaf Dae, aku tak bermaksud membuatmu kelaparan”
“yah aku mengerti,untunglah disini ada money changer jadi aku bisa membeli sesuatu untuk dimakan”
Mereka masih berpelukan dan aku benar-benar merasa terabai. Aku memutar-mutar kunci mobilku dan dengan sabar menunggu Maria.
“ah.. aku hampir saja lupa.”Maria menepuk jidatnya dan melirikku, akhirnya mr. invisible terlihat juga.
“Dae, dia Simon, dia yang mengantarku kemari”
“aigoo.. sepertinya kau punya selera fashion yang kurang baik”Yong Dae mencibir dan menatapku dari ujung ke ujung. Uhh.. aku sebal dengan caranya bicara, memangnya dia itu siapa? Pengamat fashion? cihh.. banyak lagak.
Aku menatap Maria “ayo ! kau masih ingin aku mengantarmu pulang bukan?!”kataku datar. Ku akui Dae memang terlihat keren dengan kemeja linen hitam dan kacamatanya yang juga hitam tapi meskipun aku ini sedang out of fashion tidak sepantasnya dia mengomentari cara berpakaianku. Terlebih lagi kami sama-sama lelaki. Ah.. ada apa dengan orang Korea dan fashion? Tidakkah mereka tahu cara berpakaian mereka itu terlalu ‘berat’.
Aku mengantarkan mereka sayangnya kata terima dan kasih Nampak terlalu mahal untuk keluar dari mulut seorang Lee Yong Dae. Untunglah Maria terlalu baik hati dan mengucapkan banyak terima kasih padaku. Hmm.. dasar tak tahu terima kasih.



BERSAMBUNG ke PART II
THINKING PLACE
‎Sunday, ‎April ‎28, ‎2013, ‏‎6:18:37 AM