Jumat, 22 November 2013
Mengapa
Aku memang bukan orang yang mudah mengerti perasaan orang lain. Aku memang tak peka dan tak pandai menenggang rasa. Aku memang bukan orang yang mudah memahami masalah orang lain, aku ya beginilah adanya, tapi kamu salah jika berfikir aku tak bisa merasa sakit hati. Aku manusia, bukan robot yang hambar rasanya. Aku manusia, bukan hewan yang hanya percayai instingnya, aku bukan... Ahh, sudahlah ! Apa dan siapapun diriku, mungkin bagimu sama saja, tak bermakna.
Senin, 18 November 2013
sedih
Aku ingin memiliki hati yang putih dan tak pernah membenci namun perasaan sedih dan tersentil membuat hatiku terasa penuh oleh rasa tak suka. Entah kapan aku mulai belajar menghitamkan hati tapi lambat laun aku mulai tak mengengal diriku sendiri. Aku bukan perasa yang mudah tersinggung tapi ucapan orang itu terlampau tajam dan melukai harga diriku. Ah, dia bahkan tak pernah meminta maaf atas salahnya, pantaskah aku menghargai dia sebagai salah satu temanku??
Minggu, 17 November 2013
Merenung
Mengingat hal hal yang pernah kita lalui aku jadi ingin bertanya kepadamu. Siapakah aku bagimu, teman, sahabat atau sekedar lewat? Aku tahu, sejak lama aku tlah terusir dari hidupmu tapi tidakah kenangan kita membekas meski itu hanya sedikit saja??
Selasa, 22 Oktober 2013
Hello
Aku tak bisa mencintai orang lain lebih dalam dari mencintai diriku sendiri. Aku memang egois, tak pernah bisa memimpin dan tak bisa mengambil keputusan dengan tepat, tapi aku berani menjamin aku tak pernah memiliki hati yang suka membenci. Akupun manusia, sempurna bukanlah diriku. Aku hanya aku, dan aku bangga pada diriku.
Hello World!
Welcome to MyWapBlog.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
Selasa, 02 Juli 2013
MERENUNG di SEMAK RINDU
DEAR REVAN
kadang aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa kau bisa jatuh di lubuk hatiku? dan mengapa aku bisa jatuh sayang pada seseorang yang sangat asing.aku ingin menemukanmu lalu membawamu dalam kehidupanku yang abu-abu, tapi entah kenapa, semua terasa sulit dan tidak mungkin. jika saja tuhan memberikan lagi satu kesempatan agar aku bisa mengulas kehodupan masa laluku mungkin kaulah yang akan pertama kali ku telusuri. terima kasih. setidaknya karena kehadiranmu di mimpiku aku jadi sedikit mengerti seperti apa rasanya mencintai.
FROM AIRIN, 2 JUNI 2013
CERPEN REVAN dan AIRIN
DIMANA TEMPATKU
“kau
sedang apa?”tanya seseorang
“kau
sendiri sedang apa??” aku balas bertanya
“aku
ingin bermain-main, oh ya kau kenapa? Mengapa seharian ini wajahmu tampak
sangat masam..”tanyanya dan tanpa diminta dia sudah duduk di sampingku
“kau
yang kenapa?”sekali lagi aku balas bertanya
“aku??
Memangnya aku kenapa?”tanyanya bingung entah padaku entah pada dirinya sendiri
“mana
aku tahu. Kenapa bertanya padaku”kataku sengit
“hehh..
mengapa kau suka sekali bersikap seperti ini? Tidakkah kau tahu ini
membingungkanku”
Tanyanya
sambil memperhatikan bola di tangannya
“aku
tak suka mendengar nada bicaramu”kataku dan aku mengalihkan perhatian pada bola
di pangkuanku
“katakan...!!
aku ini siapa bagimu?”Tanyanya lagi, kali ini matanya mencoba mengunci
pandanganku
“kenapa
bertanya seperti itu? Ragukah engkau kepadaku?”
“ini
bukan masalah ragu Ai hanya saja aku banyak mendengar orang orang membicarakan
tentangmu. Mereka bilang kau begini lalu begitu, mereka bilang kau harus begitu
tapi malah begini. Aku butuh kejelasan
Ai, supaya aku tak perlu susah susah menerjemahkan perasaan ini ” ia menatapku
. Matanya yang temaram menyejukan hatiku yang sedang panas. Hmm... ini sih
bukan masalah begini-begitu , atau sebaliknya tapi dia pasti sedang ingin
mendebatku. Kebiasaanya yang tak pernah berubah adalah ia suka sekali mencari-cari
bahan pertengkaran. Habisnya pacarku ini seorang orator sih jadi senang sekali
dia jika ada yang bisa di ajak berdebat.
“aku
gak ngerti ah, to the point aja bisa kan..!”kataku kalem, dalam hati aku
tersenyum geli. Jujur nih, sejak awal aku niat pacaran supaya bisa ngejailin
pacar aku dengan ekspresi super-datar-tanpa-dosa-ku, hehe
“aku
pacarmu yang ke berapa?”tanyanya. matanya berkilat siap menyulut peperangan
“emmm..”aku
sengaja menggantungkan ucapan , habisnya ekspresinya lucu BGT sih kalo sedang
serius.
“jawab
donk, masa pertanyaan begitu mudah gak bisa jawab. Percuma situ dapat ranking
satu terus”sindirnya
‘duh,mulai
gak enak nih’bathinku, aku merapikan mata ke-empatku dan menatapnya datar.
“pacar
pertamaku bola, pacar kedua Liliyana, pacar ketiga emm.. boleh deh kamu”jelasku
Dia
menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis. “Gitu ya?” ia menendang-nendang
udara dengan kakinya “kalo gitu Sandi, Arpi, Reddi, Ibas,dan sebagainya, dan
sebagainya ada di posisi berapa?”ia menudingku
“oh...
itu toh intinya. Ngomong kek dari tadi kalo kamu lagi cemburu. Gak usah
muter-muter jogja-jakarta-bandung trus balik lagi ke jogja”aku mencibirnya
“habis,
teman teman bilang sepertinya kamu lebih sayang pada mereka di banding aku, faktanya, kamu nongkrong
di kantin bareng mereka bukan
denganku, biasanya setiap malming kamu jalan dengan mereka bukan denganku jadi dimanakah batasku berada? Apakah aku pacarmu atau hanya
tempat sampahmu?! Aku bingung kenapa aku bias memilki hati untuk orang yang
hatinya terbagi-bagi”
Aku
menopang dagu dan memperhatikannya. Rupanya pacarku juga manusia ya? Makanya
bisa cemburu juga ck ck ck,
“dengerin
gak ucapanku barusan?”tanyanya
dengan nada sengit, ‘nah kan insting oratornya mulai keluar
“iya
kangmas.”aku berdiri dan memainkan bola kesayanganku
“pasti
iya-nya Cuma sekarang aja. Lima menit lagi juga pasti udah lupa” ia menggerutu
Aku
nyengir dalam hati mendengar gerutuannya
“kamu nunggu jawaban gak”aku bertanya dan
menatapnya, ia tampak terkejut mendengar intonasi tanyaku.
“iya aku butuh jawaban, garis bawahi ya !
jawaban dan bukan sanggahan apalagi filosofi gak jelas” ia berkata penuh
penekanan dan itu membuatku nyengir lagi dalam hati ‘oh, lelakiku.. J’
Aku membersihkan tenggorokan dengan berdehem terlebih dahulu
dan dapat kurasakan pacarku jadi tegang karenanya
”jawaban pertama, ya kau pacarku. Setidaknya
sampai detik ini kau belum meminta putus” aku menatapnya sekilas dan berbicara
lagi
“jawaban kedua, kurasa kau dapat menilai
sendiri ada dimana batasanmu, aku percaya padamu , menyayangimu dan mencintaimu
dengan caraku sendiri jadi temukanlah ada di ruang mana tempatmu di hatiku“ aku
meliriknya dan kurasa dia juga sedang melirikku dengan was-was
“jawaban ketiga, kurasa kau terlalu tampan
untuk hanya menjadi tempat sampahku” aku tersenyum rahasia”and the last,
bagiku, saat kau memilih untuk menjadi pacarku saat itulah kau jadi bagian
dalam hidup dan keseharianku. Pahamilah sesuatu Revan,Dalam keseharianku aku
tak sendirian. Aku punya teman, sahabat, kolega dan duniaku sendiri yang sangat
aku cintai. Aku mungkin akan lebih mendengar apa kata sahbatku di bandingkan
apa katamu tapi percayalah bahwa aku akan lebih melihatmu bahkan jika mataku di
tutupi oleh baja yang tebal, intinya berbaurlah dengan duniaku, sahabatku dan
kehidupanku. Maka aku yakin kau tak akan cemburu buta seperti ini lagi”
Dia menatapku dan menggeleng tak percaya.
“ku pikir aku sedang tidak berpacaran dengan
filusuf sekarang”katanya sambil tersenyum, tersirat jelas kelegaan dari binar
matanya ‘oh.. lelakiku’
“jadi kau puas dengan jawabanku tuan? Apakah
masih ingin bertanya lagi”
Dia menggeleng dan menjalin jemarinya dengan
jemariku
“terima kasih”ucapnya tulus
“Untuk?”
“memilihku untuk jadi bagian dari dirimu”
“ku rasa aku juga harus berterima kasih padamu”
“untuk?”
“menjadikanku perempuan yang kau pilih”
“aku tahu dimana tempatku sekarang”
“dimana?”
“tidak penting dimana. Tapi yang pasti hampir
di seluruh ruang hatimu”
“kurasa kau terlalu percaya diri tuan “aku
mencibir dan bibirnya tersenyum di atas bibirku. ‘oh,,lelakiku yang nakal dan
pencuri kesempatan’ aku mencubitnya dan dia meringis
“lain kali ijin dulu”
“ku rasa itu hanya akan membuang waktu karena
aku tahu kau akan mengijinkanku”
Aku mencubit lagi, kali ini lebih keras dan
intens
“aku rela terus di cubit setiap saat jika kau
setuju untuk ku cium kapanpun aku ingin”
Aku memerah dan menenteng bolaku, dari kejauhan
suara suara kaki dan bola yang menggelinding terdengar semakin mendekat. Mereka
baru tiba rupanya.
“woii..
Ai, main yuk”ajak Ibas, aku melambaikan tangan dan bersiap menggiring bola ke
arahnya
“tuh
kan bener”katanya dan seketika itu juga aku langsung menghadapnya
“pacarku, ini saatnya untuk memulai berkenalan dengan
duniaku”
Dia mengerutkan dahi dan memandang sahabat-
sahabatku d kejauhan
“kalo kamu mau nggak mau, mungkin lain kali”aku memberinya pengertian
“mereka tidak menggigit bukan?”
“tidak. Dalam arti menggigit yang sesungguhnya”
Dia menatapku dengan penuh keheranan
“kita tak akan tahu jika tidak mencoba, ayo !
ku rasa cuaca mendukung untuk bermain dengan teman pacarku”
“Sahabat”ralatku,dia
tersenyum senang dan meraih tanganku
“dari
tadi kek”katanya
“woii..
Ai, ikutan main gak nih?”Arpin berteriak, aku mengangguk dan menunjuk cowok yang menggandengku. Ah, aku yakin mereka akan ‘menghabisi’ lelaki tersayangku ini tapi ku
pikir itu pengorbanan yang pantas bagi lelaki yang berani masuk kandang singa
betina yang di kelilingi raja raja rimba.
SEMAK RINDU-TASIKMALAYA
NOVEMBER, 09-2011.
CERBUNG BL
HOW TO GET YOU..?!
PART I
Mencintai itu anugerah bukan? tapi masihkah ia menjadi
anugerah jika yang di cintai mematahkan hati yang mencintai? Aku sering
bertanya-tanya adakah aku di hatimu?! Kita dekat secara fisik tapi apakah hati
kita juga sedekat itu?! Entahlah,! Mungkin ini hanya harapku saja.
@@@.
“Simon,kau
kenapa? Se-sore-an ini kerjamu hanya diam dan melamun saja?” si bawel
menyenggol bahuku dan tersenyum menggoda.
“aku ini kakakmu
bodoh ! sopanlah sedikit”tegurku sambil merengut
“ah, kita hanya
beda satu menit, kau terlalu hiperbol” dia berbaring di tempat tidurku
“aku sudah hidup
lebih lama satu menit di banding kau”aku menjitak kepalanya
“kau sedang
jatuh cinta ya?!” ia menerka dan membuatku terkejut ”ceritakan padaku ! bagaimana
rasanya?”
Aku terdiam,
bagaimana bisa aku menjelaskan perasaanku, aku bingung ! kata-kata seolah
menghilang dari kamusku.
“Simon.. ayolah
! masa kau mau menyimpan perasaanmu terus. Aku ini kau. Kau adalah aku. Kita
satu kesatuan jiwa yang di pisahkan secara fisik” ia menggunakan jurus
andalannya dan kalau sudah begitu kalahlah ego-ku.
“aku harus mulai
darimana?”tanyaku
“terserah kau !
aku janji tak akan menyela” ia membentuk lambang viss dengan telunjuk dan jari
tengahnya. Baiklah ! ku ungkapkan saja semuanya pada saudariku ini, barangkali
beban hatiku akan jauh berkurang.
“awalnya aku
biasa-biasa saja, tak ada rasa apapun untuknya. Kehadirannya seolah tak begitu penting di hidupku tapi suatu
ketika dia datang padaku, bercerita tentang seseorang yang sangat ia sayang.
Aku memberi nasihat padanya, ku suruh dia untuk begini dan begitu agar dapat menjerat
pria incarannya, tapi saat kami sudah sangat jauh melangkah kenyataan
menghancurkanku,aku sadar bahwa aku tlah menjatuhkan hatiku padanya”
“hmm.. gadis itu
hebat juga bisa membuat gunung es sepertimu meleleh”
“dia istimewa
Gell, aku baru sadar akan hal itu saat aku sudah mengalami jatuh hati yang
parah. Tapi tak mudah untuk menyambungkan sebuah hati bukan?”
“kalau begitu,
kau harus memenangkan hatinya, setidaknya buat dia menyadari keberadaaanmu”
“sudah ku
lakukan Gell, tapi….”
Tok tok tok..!
ketukan di pintu menghentikan obrolan kami.
“masuk !”
perintahku
Krett..pintu
kamar terbuka dan sebuah wajah muncul dari balik pintu.
“apakah aku
mengganggu?”Tanya gadis manis itu
“tidak Kak,
masuklah kemari !”ajak Greysia
Pletak ! aku
menjitak kepala si bawel Greysia yang akrab ku panggil Gell –Angel-
“kenapa kau
memukulku? Dasar bodoh !” Gell menggerutu
“kenapa kau
memanggilnya kakak tadi kau tak mau memanggilku kakak”aku cemberut
“ahh.. jadi kau
cemburu? Ayolah aku ini bukan kekasihmu”
“kau menyebalkan
Gell, aku yang kakakmu kenapa dia yang kau panggil kakak” aku mendebat Gell.
“sudahlah !
kalian terlalu tua untuk memperdebatkan hal hal kecil seperti ini” Maria
menengahi kami. Aku meringis dan menutup pintu yang tadi di lupakan oleh Maria.
“ada apa
kak?”Tanya Gell
“bisakah kau
menemaniku ke SOETTA?”tanyanya
“ah, aku sedang
malas. Kau saja Mon !” Gell ‘melempar bola’ padaku
“emm. Bagaimana ya?!
Aku juga sedang malas”aku menolak, aku tak bisa dekat-dekat dengan Maria lagi
“ayolah ku
mohon.! Siapapun yang mau mengantarku akan ku traktir nanti”
“aku rasa uang
bukan prioritas utama, maafkan aku”aku mengambil majalah otomotif dan
membolak-balikan halamannya. Tiba-tiba ponsel Maria bordering dan satu suara
menyapanya dari seberang sana.
“hallo”
“…………….”
“maafkan aku,
apakah kau sudah lama menunggu?”
“…………….”
“oh, aku akan
sampai beberapa menit lagi. Sabarlah !”
Maria memandangi
kami berdua “apakah kalian tega membiarkan sepupuku menunggu lebih lama lagi,
ku mohon temani aku !”Maria memelas dan menatap kami penuh harap.
Aku menutup
majalah yang akan ku baca dan menyambar kunci mobilku.
“ayo Mar !
kasian sepupumu”kataku
“benarkah kau
mau mengantarku?”Maria mengerjap dan menatapku dengan berbinar
“ayo !”jawabku
“terima kasih,
aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu”
“kembali kasih,
ku tunggu traktiranmu nanti”
Butuh waktu
setengah jam untuk sampai ke Bandara Internasional Soekarnio-Hatta. Sebenarnya
aku tak mau mengantarnya tapi tak tega rasanya memandangi matanya yang di
penuhi harapan.
“siapa yang kau
jemput Mar?”aku bertanya padanya
“sepupuku, dia
dari Korea. Namanya Lee Yong Dae”
“aku baru tahu
kau punya sepupu orang Korea”tanyaku lagi
“apakah aku tak
pernah membicarakannya?”
“sejauh yang ku
ingat, tidak sedikitpun kau menyinggungnya”
“hmm, aku punya
tante yang bekerja di Jaeju Island, dia punya resort disana. Namanya tante
Vivian, lalu dia menikah dengan Lee Jae Shin dan mereka di karuniai seorang
anak yang sangat tampan dialah Dae –Lee
Yong Dae-“
“ohh.. kau
bilang dia tampan? Benarkah?! Ku rasa aku lebih tampan darinya”
“heii.. jangan
sombong kau ! ketampanan Dae melebihi siapapun yang pernah ku temui. Bahkan
Hendra saja kalah tampan dengannya”
“Hendra? Si
coolin boy itu kalah tampan?! Ah.. aku meragukannya”
“baik,
buktikanlah sendiri”Ucap Maria dengan penuh percaya diri.
Maria merogoh
ponselnya dan menekan tombol call.
“kau dimana
Dae?” tanpa salam dan sapa Maria langsung ajukan pertanyaan.
“aku di
cafeteria, lapar sekali rasanya jadi aku mampir untuk mengisi perut”
“aku menyesal
membiarkanmu menunggu selama itu, aku akan kesana segera !”
Klik.. maria
mematikan ponselnya dan menarik tanganku.
“heii.. ku pikir
aku bukan kambing kau tak perlu menuntunku”kataku, aku keberatan dengan caranya
menggeret tanganku
“maaf, aku
benar-benar harus sesegera mungkin menemui Dae. Kasihan dia”
Maria melepaskan
tanganku dan kami berjalan bersisian, setibanya di cafeteria Maria langsung
merogoh ponselnya lagi.
“Maria..!
“seseorang berteriak memanggil Maria dan kami menoleh ke sumber suara.
“Lee Yong Dae..
kyaa.. !”Maria memeluk sepupunya itu, ia seolah lupa ada aku di sisinya.”aku
minta maaf Dae, aku tak bermaksud membuatmu kelaparan”
“yah aku
mengerti,untunglah disini ada money
changer jadi aku bisa membeli sesuatu untuk dimakan”
Mereka masih
berpelukan dan aku benar-benar merasa terabai. Aku memutar-mutar kunci mobilku
dan dengan sabar menunggu Maria.
“ah.. aku hampir
saja lupa.”Maria menepuk jidatnya dan melirikku, akhirnya mr. invisible terlihat juga.
“Dae, dia Simon,
dia yang mengantarku kemari”
“aigoo..
sepertinya kau punya selera fashion yang kurang baik”Yong Dae mencibir dan
menatapku dari ujung ke ujung. Uhh.. aku sebal dengan caranya bicara, memangnya
dia itu siapa? Pengamat fashion? cihh.. banyak lagak.
Aku menatap
Maria “ayo ! kau masih ingin aku mengantarmu pulang bukan?!”kataku datar. Ku
akui Dae memang terlihat keren dengan kemeja linen hitam dan kacamatanya yang
juga hitam tapi meskipun aku ini sedang out
of fashion tidak sepantasnya dia
mengomentari cara berpakaianku. Terlebih lagi kami sama-sama lelaki. Ah.. ada
apa dengan orang Korea dan fashion? Tidakkah mereka tahu cara berpakaian mereka
itu terlalu ‘berat’.
Aku mengantarkan
mereka sayangnya kata terima dan kasih Nampak terlalu mahal untuk keluar dari
mulut seorang Lee Yong Dae. Untunglah Maria terlalu baik hati dan mengucapkan
banyak terima kasih padaku. Hmm.. dasar tak tahu terima kasih.
BERSAMBUNG ke PART II
THINKING PLACE
Sunday, April 28, 2013, 6:18:37 AM
CERBUNG BL
HOW TO GET YOU..?!
PART I
Mencintai itu anugerah bukan? tapi masihkah ia menjadi
anugerah jika yang di cintai mematahkan hati yang mencintai? Aku sering
bertanya-tanya adakah aku di hatimu?! Kita dekat secara fisik tapi apakah hati
kita juga sedekat itu?! Entahlah,! Mungkin ini hanya harapku saja.
@@@.
“Simon,kau
kenapa? Se-sore-an ini kerjamu hanya diam dan melamun saja?” si bawel
menyenggol bahuku dan tersenyum menggoda.
“aku ini kakakmu
bodoh ! sopanlah sedikit”tegurku sambil merengut
“ah, kita hanya
beda satu menit, kau terlalu hiperbol” dia berbaring di tempat tidurku
“aku sudah hidup
lebih lama satu menit di banding kau”aku menjitak kepalanya
“kau sedang
jatuh cinta ya?!” ia menerka dan membuatku terkejut ”ceritakan padaku ! bagaimana
rasanya?”
Aku terdiam,
bagaimana bisa aku menjelaskan perasaanku, aku bingung ! kata-kata seolah
menghilang dari kamusku.
“Simon.. ayolah
! masa kau mau menyimpan perasaanmu terus. Aku ini kau. Kau adalah aku. Kita
satu kesatuan jiwa yang di pisahkan secara fisik” ia menggunakan jurus
andalannya dan kalau sudah begitu kalahlah ego-ku.
“aku harus mulai
darimana?”tanyaku
“terserah kau !
aku janji tak akan menyela” ia membentuk lambang viss dengan telunjuk dan jari
tengahnya. Baiklah ! ku ungkapkan saja semuanya pada saudariku ini, barangkali
beban hatiku akan jauh berkurang.
“awalnya aku
biasa-biasa saja, tak ada rasa apapun untuknya. Kehadirannya seolah tak begitu penting di hidupku tapi suatu
ketika dia datang padaku, bercerita tentang seseorang yang sangat ia sayang.
Aku memberi nasihat padanya, ku suruh dia untuk begini dan begitu agar dapat menjerat
pria incarannya, tapi saat kami sudah sangat jauh melangkah kenyataan
menghancurkanku,aku sadar bahwa aku tlah menjatuhkan hatiku padanya”
“hmm.. gadis itu
hebat juga bisa membuat gunung es sepertimu meleleh”
“dia istimewa
Gell, aku baru sadar akan hal itu saat aku sudah mengalami jatuh hati yang
parah. Tapi tak mudah untuk menyambungkan sebuah hati bukan?”
“kalau begitu,
kau harus memenangkan hatinya, setidaknya buat dia menyadari keberadaaanmu”
“sudah ku
lakukan Gell, tapi….”
Tok tok tok..!
ketukan di pintu menghentikan obrolan kami.
“masuk !”
perintahku
Krett..pintu
kamar terbuka dan sebuah wajah muncul dari balik pintu.
“apakah aku
mengganggu?”Tanya gadis manis itu
“tidak Kak,
masuklah kemari !”ajak Greysia
Pletak ! aku
menjitak kepala si bawel Greysia yang akrab ku panggil Gell –Angel-
“kenapa kau
memukulku? Dasar bodoh !” Gell menggerutu
“kenapa kau
memanggilnya kakak tadi kau tak mau memanggilku kakak”aku cemberut
“ahh.. jadi kau
cemburu? Ayolah aku ini bukan kekasihmu”
“kau menyebalkan
Gell, aku yang kakakmu kenapa dia yang kau panggil kakak” aku mendebat Gell.
“sudahlah !
kalian terlalu tua untuk memperdebatkan hal hal kecil seperti ini” Maria
menengahi kami. Aku meringis dan menutup pintu yang tadi di lupakan oleh Maria.
“ada apa
kak?”Tanya Gell
“bisakah kau
menemaniku ke SOETTA?”tanyanya
“ah, aku sedang
malas. Kau saja Mon !” Gell ‘melempar bola’ padaku
“emm. Bagaimana ya?!
Aku juga sedang malas”aku menolak, aku tak bisa dekat-dekat dengan Maria lagi
“ayolah ku
mohon.! Siapapun yang mau mengantarku akan ku traktir nanti”
“aku rasa uang
bukan prioritas utama, maafkan aku”aku mengambil majalah otomotif dan
membolak-balikan halamannya. Tiba-tiba ponsel Maria bordering dan satu suara
menyapanya dari seberang sana.
“hallo”
“…………….”
“maafkan aku,
apakah kau sudah lama menunggu?”
“…………….”
“oh, aku akan
sampai beberapa menit lagi. Sabarlah !”
Maria memandangi
kami berdua “apakah kalian tega membiarkan sepupuku menunggu lebih lama lagi,
ku mohon temani aku !”Maria memelas dan menatap kami penuh harap.
Aku menutup
majalah yang akan ku baca dan menyambar kunci mobilku.
“ayo Mar !
kasian sepupumu”kataku
“benarkah kau
mau mengantarku?”Maria mengerjap dan menatapku dengan berbinar
“ayo !”jawabku
“terima kasih,
aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu”
“kembali kasih,
ku tunggu traktiranmu nanti”
Butuh waktu
setengah jam untuk sampai ke Bandara Internasional Soekarnio-Hatta. Sebenarnya
aku tak mau mengantarnya tapi tak tega rasanya memandangi matanya yang di
penuhi harapan.
“siapa yang kau
jemput Mar?”aku bertanya padanya
“sepupuku, dia
dari Korea. Namanya Lee Yong Dae”
“aku baru tahu
kau punya sepupu orang Korea”tanyaku lagi
“apakah aku tak
pernah membicarakannya?”
“sejauh yang ku
ingat, tidak sedikitpun kau menyinggungnya”
“hmm, aku punya
tante yang bekerja di Jaeju Island, dia punya resort disana. Namanya tante
Vivian, lalu dia menikah dengan Lee Jae Shin dan mereka di karuniai seorang
anak yang sangat tampan dialah Dae –Lee
Yong Dae-“
“ohh.. kau
bilang dia tampan? Benarkah?! Ku rasa aku lebih tampan darinya”
“heii.. jangan
sombong kau ! ketampanan Dae melebihi siapapun yang pernah ku temui. Bahkan
Hendra saja kalah tampan dengannya”
“Hendra? Si
coolin boy itu kalah tampan?! Ah.. aku meragukannya”
“baik,
buktikanlah sendiri”Ucap Maria dengan penuh percaya diri.
Maria merogoh
ponselnya dan menekan tombol call.
“kau dimana
Dae?” tanpa salam dan sapa Maria langsung ajukan pertanyaan.
“aku di
cafeteria, lapar sekali rasanya jadi aku mampir untuk mengisi perut”
“aku menyesal
membiarkanmu menunggu selama itu, aku akan kesana segera !”
Klik.. maria
mematikan ponselnya dan menarik tanganku.
“heii.. ku pikir
aku bukan kambing kau tak perlu menuntunku”kataku, aku keberatan dengan caranya
menggeret tanganku
“maaf, aku
benar-benar harus sesegera mungkin menemui Dae. Kasihan dia”
Maria melepaskan
tanganku dan kami berjalan bersisian, setibanya di cafeteria Maria langsung
merogoh ponselnya lagi.
“Maria..!
“seseorang berteriak memanggil Maria dan kami menoleh ke sumber suara.
“Lee Yong Dae..
kyaa.. !”Maria memeluk sepupunya itu, ia seolah lupa ada aku di sisinya.”aku
minta maaf Dae, aku tak bermaksud membuatmu kelaparan”
“yah aku
mengerti,untunglah disini ada money
changer jadi aku bisa membeli sesuatu untuk dimakan”
Mereka masih
berpelukan dan aku benar-benar merasa terabai. Aku memutar-mutar kunci mobilku
dan dengan sabar menunggu Maria.
“ah.. aku hampir
saja lupa.”Maria menepuk jidatnya dan melirikku, akhirnya mr. invisible terlihat juga.
“Dae, dia Simon,
dia yang mengantarku kemari”
“aigoo..
sepertinya kau punya selera fashion yang kurang baik”Yong Dae mencibir dan
menatapku dari ujung ke ujung. Uhh.. aku sebal dengan caranya bicara, memangnya
dia itu siapa? Pengamat fashion? cihh.. banyak lagak.
Aku menatap
Maria “ayo ! kau masih ingin aku mengantarmu pulang bukan?!”kataku datar. Ku
akui Dae memang terlihat keren dengan kemeja linen hitam dan kacamatanya yang
juga hitam tapi meskipun aku ini sedang out
of fashion tidak sepantasnya dia
mengomentari cara berpakaianku. Terlebih lagi kami sama-sama lelaki. Ah.. ada
apa dengan orang Korea dan fashion? Tidakkah mereka tahu cara berpakaian mereka
itu terlalu ‘berat’.
Aku mengantarkan
mereka sayangnya kata terima dan kasih Nampak terlalu mahal untuk keluar dari
mulut seorang Lee Yong Dae. Untunglah Maria terlalu baik hati dan mengucapkan
banyak terima kasih padaku. Hmm.. dasar tak tahu terima kasih.
BERSAMBUNG ke PART II
THINKING PLACE
Sunday, April 28, 2013, 6:18:37 AM
Langganan:
Komentar (Atom)