HOW TO GET YOU..?!
PART I
Mencintai itu anugerah bukan? tapi masihkah ia menjadi
anugerah jika yang di cintai mematahkan hati yang mencintai? Aku sering
bertanya-tanya adakah aku di hatimu?! Kita dekat secara fisik tapi apakah hati
kita juga sedekat itu?! Entahlah,! Mungkin ini hanya harapku saja.
@@@.
“Simon,kau
kenapa? Se-sore-an ini kerjamu hanya diam dan melamun saja?” si bawel
menyenggol bahuku dan tersenyum menggoda.
“aku ini kakakmu
bodoh ! sopanlah sedikit”tegurku sambil merengut
“ah, kita hanya
beda satu menit, kau terlalu hiperbol” dia berbaring di tempat tidurku
“aku sudah hidup
lebih lama satu menit di banding kau”aku menjitak kepalanya
“kau sedang
jatuh cinta ya?!” ia menerka dan membuatku terkejut ”ceritakan padaku ! bagaimana
rasanya?”
Aku terdiam,
bagaimana bisa aku menjelaskan perasaanku, aku bingung ! kata-kata seolah
menghilang dari kamusku.
“Simon.. ayolah
! masa kau mau menyimpan perasaanmu terus. Aku ini kau. Kau adalah aku. Kita
satu kesatuan jiwa yang di pisahkan secara fisik” ia menggunakan jurus
andalannya dan kalau sudah begitu kalahlah ego-ku.
“aku harus mulai
darimana?”tanyaku
“terserah kau !
aku janji tak akan menyela” ia membentuk lambang viss dengan telunjuk dan jari
tengahnya. Baiklah ! ku ungkapkan saja semuanya pada saudariku ini, barangkali
beban hatiku akan jauh berkurang.
“awalnya aku
biasa-biasa saja, tak ada rasa apapun untuknya. Kehadirannya seolah tak begitu penting di hidupku tapi suatu
ketika dia datang padaku, bercerita tentang seseorang yang sangat ia sayang.
Aku memberi nasihat padanya, ku suruh dia untuk begini dan begitu agar dapat menjerat
pria incarannya, tapi saat kami sudah sangat jauh melangkah kenyataan
menghancurkanku,aku sadar bahwa aku tlah menjatuhkan hatiku padanya”
“hmm.. gadis itu
hebat juga bisa membuat gunung es sepertimu meleleh”
“dia istimewa
Gell, aku baru sadar akan hal itu saat aku sudah mengalami jatuh hati yang
parah. Tapi tak mudah untuk menyambungkan sebuah hati bukan?”
“kalau begitu,
kau harus memenangkan hatinya, setidaknya buat dia menyadari keberadaaanmu”
“sudah ku
lakukan Gell, tapi….”
Tok tok tok..!
ketukan di pintu menghentikan obrolan kami.
“masuk !”
perintahku
Krett..pintu
kamar terbuka dan sebuah wajah muncul dari balik pintu.
“apakah aku
mengganggu?”Tanya gadis manis itu
“tidak Kak,
masuklah kemari !”ajak Greysia
Pletak ! aku
menjitak kepala si bawel Greysia yang akrab ku panggil Gell –Angel-
“kenapa kau
memukulku? Dasar bodoh !” Gell menggerutu
“kenapa kau
memanggilnya kakak tadi kau tak mau memanggilku kakak”aku cemberut
“ahh.. jadi kau
cemburu? Ayolah aku ini bukan kekasihmu”
“kau menyebalkan
Gell, aku yang kakakmu kenapa dia yang kau panggil kakak” aku mendebat Gell.
“sudahlah !
kalian terlalu tua untuk memperdebatkan hal hal kecil seperti ini” Maria
menengahi kami. Aku meringis dan menutup pintu yang tadi di lupakan oleh Maria.
“ada apa
kak?”Tanya Gell
“bisakah kau
menemaniku ke SOETTA?”tanyanya
“ah, aku sedang
malas. Kau saja Mon !” Gell ‘melempar bola’ padaku
“emm. Bagaimana ya?!
Aku juga sedang malas”aku menolak, aku tak bisa dekat-dekat dengan Maria lagi
“ayolah ku
mohon.! Siapapun yang mau mengantarku akan ku traktir nanti”
“aku rasa uang
bukan prioritas utama, maafkan aku”aku mengambil majalah otomotif dan
membolak-balikan halamannya. Tiba-tiba ponsel Maria bordering dan satu suara
menyapanya dari seberang sana.
“hallo”
“…………….”
“maafkan aku,
apakah kau sudah lama menunggu?”
“…………….”
“oh, aku akan
sampai beberapa menit lagi. Sabarlah !”
Maria memandangi
kami berdua “apakah kalian tega membiarkan sepupuku menunggu lebih lama lagi,
ku mohon temani aku !”Maria memelas dan menatap kami penuh harap.
Aku menutup
majalah yang akan ku baca dan menyambar kunci mobilku.
“ayo Mar !
kasian sepupumu”kataku
“benarkah kau
mau mengantarku?”Maria mengerjap dan menatapku dengan berbinar
“ayo !”jawabku
“terima kasih,
aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu”
“kembali kasih,
ku tunggu traktiranmu nanti”
Butuh waktu
setengah jam untuk sampai ke Bandara Internasional Soekarnio-Hatta. Sebenarnya
aku tak mau mengantarnya tapi tak tega rasanya memandangi matanya yang di
penuhi harapan.
“siapa yang kau
jemput Mar?”aku bertanya padanya
“sepupuku, dia
dari Korea. Namanya Lee Yong Dae”
“aku baru tahu
kau punya sepupu orang Korea”tanyaku lagi
“apakah aku tak
pernah membicarakannya?”
“sejauh yang ku
ingat, tidak sedikitpun kau menyinggungnya”
“hmm, aku punya
tante yang bekerja di Jaeju Island, dia punya resort disana. Namanya tante
Vivian, lalu dia menikah dengan Lee Jae Shin dan mereka di karuniai seorang
anak yang sangat tampan dialah Dae –Lee
Yong Dae-“
“ohh.. kau
bilang dia tampan? Benarkah?! Ku rasa aku lebih tampan darinya”
“heii.. jangan
sombong kau ! ketampanan Dae melebihi siapapun yang pernah ku temui. Bahkan
Hendra saja kalah tampan dengannya”
“Hendra? Si
coolin boy itu kalah tampan?! Ah.. aku meragukannya”
“baik,
buktikanlah sendiri”Ucap Maria dengan penuh percaya diri.
Maria merogoh
ponselnya dan menekan tombol call.
“kau dimana
Dae?” tanpa salam dan sapa Maria langsung ajukan pertanyaan.
“aku di
cafeteria, lapar sekali rasanya jadi aku mampir untuk mengisi perut”
“aku menyesal
membiarkanmu menunggu selama itu, aku akan kesana segera !”
Klik.. maria
mematikan ponselnya dan menarik tanganku.
“heii.. ku pikir
aku bukan kambing kau tak perlu menuntunku”kataku, aku keberatan dengan caranya
menggeret tanganku
“maaf, aku
benar-benar harus sesegera mungkin menemui Dae. Kasihan dia”
Maria melepaskan
tanganku dan kami berjalan bersisian, setibanya di cafeteria Maria langsung
merogoh ponselnya lagi.
“Maria..!
“seseorang berteriak memanggil Maria dan kami menoleh ke sumber suara.
“Lee Yong Dae..
kyaa.. !”Maria memeluk sepupunya itu, ia seolah lupa ada aku di sisinya.”aku
minta maaf Dae, aku tak bermaksud membuatmu kelaparan”
“yah aku
mengerti,untunglah disini ada money
changer jadi aku bisa membeli sesuatu untuk dimakan”
Mereka masih
berpelukan dan aku benar-benar merasa terabai. Aku memutar-mutar kunci mobilku
dan dengan sabar menunggu Maria.
“ah.. aku hampir
saja lupa.”Maria menepuk jidatnya dan melirikku, akhirnya mr. invisible terlihat juga.
“Dae, dia Simon,
dia yang mengantarku kemari”
“aigoo..
sepertinya kau punya selera fashion yang kurang baik”Yong Dae mencibir dan
menatapku dari ujung ke ujung. Uhh.. aku sebal dengan caranya bicara, memangnya
dia itu siapa? Pengamat fashion? cihh.. banyak lagak.
Aku menatap
Maria “ayo ! kau masih ingin aku mengantarmu pulang bukan?!”kataku datar. Ku
akui Dae memang terlihat keren dengan kemeja linen hitam dan kacamatanya yang
juga hitam tapi meskipun aku ini sedang out
of fashion tidak sepantasnya dia
mengomentari cara berpakaianku. Terlebih lagi kami sama-sama lelaki. Ah.. ada
apa dengan orang Korea dan fashion? Tidakkah mereka tahu cara berpakaian mereka
itu terlalu ‘berat’.
Aku mengantarkan
mereka sayangnya kata terima dan kasih Nampak terlalu mahal untuk keluar dari
mulut seorang Lee Yong Dae. Untunglah Maria terlalu baik hati dan mengucapkan
banyak terima kasih padaku. Hmm.. dasar tak tahu terima kasih.
BERSAMBUNG ke PART II
THINKING PLACE
Sunday, April 28, 2013, 6:18:37 AM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar