Kamis, 04 Desember 2014

Temanku Hanya Secangkir Kopi, Kini.

coffee-break-tanda-tangan.jpg

Selama bertahun-tahun aku hidup, mataku ini telah menjadi saksi berbagai macam perubahan. Dari mulai perubahan yang sederhana sampai yang paling luar biasa tetapi perubahan-perubahan itu hanyalah hal yang kecil apabila dibandingkan dengan perubahan hati manusia, ya, tidak ada perubahan yang seekstrim hati manusia. Terkadang mereka akan berkata putih padahal dalam hati mengatakan hitam, terkadang mereka akan mengatakan ya walaupun dalam hati sebenarnya menolak. Aku tidak mengerti, yaa… begitu banyak hal yang tidak di mengerti olehku dan otak sederhanaku. Apakah dalam kehidupan ini kejujuran dan ketulusan begitu mahal harganya sampai-sampai kehidupanku ini dipenuhi oleh orang-orang munafik. Orang yang tidak menepati omongannya, orang yang memberikan pujian padahal di belakang menggunjingkan, orang yang tersenyum tetapi di belakang menyeringai , bukankah itu yang namanya orang munafik? Aku benci perubahan, aku benar-benar membencinya bahkan dalam keadaan dimana akupun larut dalam perubahan itu. Aku ingin memprotes dunia dan meneriakan bahwa aku ingin semua orang tetap pada keadaan seperti aku bertemu mereka untuk pertama kalinya tetapi sayang sekali harus ku ajukan pada siapa teriakanku ini, harus aku katakan kepada siapa kekesalanku ini? Akupun tidak mendapat jawaban tentang itu. Aku tidak bisa memandang setiap orang degan pandangan yang sama lagi sekarang, mereka berubah, dari orang-orang yang berhati malaikat menjadi orang yang tidak bisa ku kenali. Apakah mereka iblis berwujud malaikat? ataukah malaikat yang berwujud sebagai iblis? Aku tidak tahu karena utuk membedakannya termata sangat sulit. Mungkin aku bisa memberikan kata maaf kepada mereka, akan tetapi pandanganku kepada mereka tak akan pernah sama lagi. Setiap kali mata ini memandang mereka maka yang terlihat adalah senyuman manis penuh kepalsuan yang berubah menjadi seringai menyebalkan. Setiap kali aku berbicara dengan mereka yang terdengar hanyalah bisikan-bisikan mengejek yang amat sangat memekakan telinga. Aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik dan lebih suka menyembunyikan diri daripada beradu argument dan berdebat dengan orang lain, diam adalah kekuatanku akan tetapi setelah aku mendengar hal menjijikan ini aku benar-benar menyerah untuk bersikap baik kepada kalian. Mungkin kalian hanya ‘angin’ yang berhembus menuju tekanan rendah dan menghilang membawa material debu maka jangan salahkan aku jika kini aku memperlakukan kalian seperti angin. Temanku hanya secangkir kopi, kini. Ya… secangkir kopi yang tak akan pernah mengejek di belakangku, secangkir kopi yang tak akan pernah mengkhianatiku. Temanku memang hanya  secangkir kopi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar